Sebuah Kaca Mata & Sebongkah Besi

16 August 2007

Sebuah kaca mataBertengger di atas hidung

Nyantol di telinga

Ringan

Mungkinkan kau melihat lebih indah

Jadikan kau nampak lebih gagah

Setiap ada kesempatan

Kau menanggalkannya

Sambil berkeluh kesah

Bisikmu itu adalah beban

Sebongkah besi di tempat fitness

Tuk mengangkatnya kau harus bayar

harus sempatkan waktu

Ketika mengangkatnya

Kau tersenyum

Dengan sengaja kau menambah beratnya

Setelah mengangkatnya

Kau mengangkatnya lagi

Dan lagi

Kala beratnya menghimpit

Kedua tanganmu goyah

Serasa tak kuat lagi menopang

Kau menarik napas panjang

Kumpulkan segenap semangat

Kau mencoba mengangkatnya sekali lagi

Dan lagi

peluh mengucur sekujur badan

Tangan lemas sulit digerakan

Namun kau tersenyum puas

Pulang dengan hati lapang

Besok atau lusa

Kau kan kembali lagi

Dengan penuh semangat

Tuk menanggung berat

Bisikmu, itu rekreasi


Ayahku Hanya Lelaki Biasa Sepertiku

22 July 2007

Saya menikah ketika berumur 33 tahun, namun  mulai mempersiapkan diri menjadi seorang ayah ketika berumur 23 tahun, pada saat itu saya berpacaran dengan seseorang dan berharap kami akan menikah ketika saya lulus kuliah, bekerja dan memiliki uang cukup untuk merayakan pernikahan kami dan menyewa sebuah rumah untuk tempat tinggal kami membesarkan anak-anak kami.Saya bergaul dengan anak-anak kecil, memperhatikan cara orang tua mendidik anaknya, membaca buku-buku tentang pendidikan anak dan hubungan anak dengan orang tuanya. Mungkin anda pikir saya gila? Tidak, saya tidak gila, tetapi saya takut anak-anak saya membenci saya, seperti saya membenci papa saya. Waktu kecil, saya takut padanya, namun setelah lulus SMA, saya yakin dapat menghajarnya dengan mudah. Beberapa kali terpikir untuk menantangnya duel, namun tidak kulakukan karena saya tahu mama tidak akan mentolerir hal itu.

Setelah lulus kuliah, di belakangnya, saya menyebut ayah saya “si tua bodoh.”  Ketika berhadapan, saya tetap menyebutnya papa, bukan karena saya meghormatinya, tetapi untuk menunjukkan kepadanya bahwa saya masih tahu tatakrama.

Suatu siang, saya ingat waktu itu saya berumur 28 tahun, saya menumpang bis Jakarta Sukabumi, saya duduk di samping jendela kanan. Bis yang kutumpangi melaju di jalan tol Jagorawi di siang terik. Sebuah mobil box merek Mitsubishi Cold berusaha menyusul bis yang kutumpangi, namun supir bis memberikan perlawanan. Aku memandangi mobil tersebut, di bangku depan, ayahku duduk di samping supirnya, dia sedang dalam perjalanan pulang dari berdagang. Dia duduk tenang, pandangannya menerawang. Aku terus memandangi ayahku, aku tidak tahu berapa lama aku memanndanginya, namun, hingga hari ini, peristiwa itu terus kukenang. Aku, dari ketinggian bis, memandanginya di kerendahan Cold Mitshubisi dan terus memandanginya, hingga tiba-tiba muncul sebuah kesadaran di dalam hatiku, AYAHKU HANYA SEORANG LAKI-LAKI BIASA.

Ketika mobilnya melaju di depan bis yang kutumpangi, pikiran itu terus berkecamuk di dalam hatiku, ayahku hanya seorang lelaki, dia bukan dewa, dia hanya seorang lelaki biasa sepertiku. Aku memujanya sebagai dewa, namun prilakunya adalah prilaku seorang lelaki biasa, itu sebabnya aku membencinya, dan menyalahkannya. Aku menghormatinya sebagai raja dan berharap dia mendidikku untuk jadi pangeran, namun dia hanya seorang lelaki biasa yang berprilaku sebagai lelaki biasa, itu sebabnya aku memusuhinya dan menyebutnya si tua bodoh. Sejak hari itu, aku menerima kenyataan, bahwa ayahku hanya seorang lelaki biasa, sama seperti aku, seorang lelaki biasa.


Menatap Televisi

25 June 2007

Malam Selasa,

Menatap televisi sementara akal mengembara

Tadi pagi,

Mama, adik adikku, teman teman

Mengunjungi makam Cilin

Kemarin mereka mengajakku turut serta

Aku tersenyum menggeleng

Menatap televisi

Sementara rindu cilin mengelus hati

Gelembung gelembung bir dingin

Memikat dari dalam gelas,

Kutenggak, perlahan

Sbab tak ingin mabuk aku malam ini

Menatap televisi

Mata berkaca kaca, air mata tak mengalir

Kemarahan sudah berlalu

Duka sudah menguap

Tapi rindu, setia

Setiap kali rindu mengelus,

Aku tahu,

Langit biru pun tak sanggup

Memutus rasa sayangku padanya

Menatap televisi

Sementara mata batinku mengembara

Menembus langit biru

Disana kulihat cilin

Tersenyum geleng geleng kepala

Sebut nama kecilku menggoda

“Ayang …. Ayang,

Kirain lu batu karang ”

Menatap televisi

Sementara hand phone ku berdenyut dua kali

Kutunggu rindu menguap

Kutunggu rasa sayang menguncup

Kuraih hand phone-ku

Entah apa yang tertulis pasti,

Tapi ini yang aku mengerti,

“Ini forward dari Indra,

Ibuku meninggal jam 10.15,

C U Y = Si yU Ya”

Inalilahi

Wa Inalilahi Roji un

Semoga Sang Agung

Menyambutnya di Sebrang Langit Biru

Aku mengucap,

Mata berkaca kaca,

Air mata enggan mengalir

Aku bersujud tiga kali

Menyembah Sang Agung

Yang sekali lagi

Menunjukan kedaulatanNya,

tak terbantah

Aku ketik apa yang aku ucapkan

Dan kukirim

Bersama dengan seluruh semangatku

Tuk seorang teman

Cerita selanjutnya kalian

Sudah dengar

Aku hanya bisa bergumam

“Maaf seribu maaf !

Maafkan aku !”

Selasa siang

Ditengah meeting Hpku berdenyut dua kali

Kubuka,

Business Card, Mace

Ku save

Sore, selesai meeting

Berjalan keluar dari ruang meeting,

Kucari tempat sepi,

“Hallo, suara di seberang

“Halloo, balasku ….dan aku sadar,

siapa yang harus kucari?

Dengan Enggan, ku berkata, sambil sedikit berdoa,

“Cari mace ada?”

“Mace?? ….

(Haruskah kukatakan aku mencari mace yang suka menggaruk aspal?

“Maaf, saya salah telepon, maaf

kumatikan Hpku

tak tau lagi harus apa??

Mace,

Aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan saat ini,

But sing Tabahnya !!

Jakarta 20 Agustus 2003


Cilin Bohongin Mama

22 June 2007

Rumah sakit medistra lantai tiga, Cilin pergi ke sebarang langit biru, di sana daun-daun tak pernah layu. 

“Cilin bohongin mama …….dia bohongin mama ……dia bilang mau tidur, tapi dia pergi…. Kalau mau pergi bilang aja mau pergi kenapa musti bohongin mama ……?”

Suara tangis memenuhi udara lantai tiga medistra wanita perkasa itu duduk di kursi lipat chitose, anak gadis bungsunya, Merry berdiri memeluknya.

Energi hitam bergolak penuhi tubuhku sementara dari ruangan perawatan melangkah orang orang memandang wanita perkasa dengan anak bungsunya dengan iba. Kutarik napas panjang, kulihat benda benda dan terlintas dalam benak, kubila kusalurkan energi hitamku, maka benda benda kan hancur berantakan. Aku melangkah menjauh.

Di pojok sepi, setelah berkali kali menarik napas panjang, energi hitam larut pelan pelan. Aku tertawa, ho ho ho …  

Kudekap wanita perkasa itu, kuajak turun, toh cilin tlah menunggu di bawah. Tak rela kulihat pandangan iba padanya. Lewat mataku kukatakan pada mereka, jangan iba, dia lebih kuat dari siapapun yang ada di ruangan ini.