Cilin Bohongin Mama

Rumah sakit medistra lantai tiga, Cilin pergi ke sebarang langit biru, di sana daun-daun tak pernah layu. 

“Cilin bohongin mama …….dia bohongin mama ……dia bilang mau tidur, tapi dia pergi…. Kalau mau pergi bilang aja mau pergi kenapa musti bohongin mama ……?”

Suara tangis memenuhi udara lantai tiga medistra wanita perkasa itu duduk di kursi lipat chitose, anak gadis bungsunya, Merry berdiri memeluknya.

Energi hitam bergolak penuhi tubuhku sementara dari ruangan perawatan melangkah orang orang memandang wanita perkasa dengan anak bungsunya dengan iba. Kutarik napas panjang, kulihat benda benda dan terlintas dalam benak, kubila kusalurkan energi hitamku, maka benda benda kan hancur berantakan. Aku melangkah menjauh.

Di pojok sepi, setelah berkali kali menarik napas panjang, energi hitam larut pelan pelan. Aku tertawa, ho ho ho …  

Kudekap wanita perkasa itu, kuajak turun, toh cilin tlah menunggu di bawah. Tak rela kulihat pandangan iba padanya. Lewat mataku kukatakan pada mereka, jangan iba, dia lebih kuat dari siapapun yang ada di ruangan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: