Ayahku Hanya Lelaki Biasa Sepertiku

Saya menikah ketika berumur 33 tahun, namun  mulai mempersiapkan diri menjadi seorang ayah ketika berumur 23 tahun, pada saat itu saya berpacaran dengan seseorang dan berharap kami akan menikah ketika saya lulus kuliah, bekerja dan memiliki uang cukup untuk merayakan pernikahan kami dan menyewa sebuah rumah untuk tempat tinggal kami membesarkan anak-anak kami.Saya bergaul dengan anak-anak kecil, memperhatikan cara orang tua mendidik anaknya, membaca buku-buku tentang pendidikan anak dan hubungan anak dengan orang tuanya. Mungkin anda pikir saya gila? Tidak, saya tidak gila, tetapi saya takut anak-anak saya membenci saya, seperti saya membenci papa saya. Waktu kecil, saya takut padanya, namun setelah lulus SMA, saya yakin dapat menghajarnya dengan mudah. Beberapa kali terpikir untuk menantangnya duel, namun tidak kulakukan karena saya tahu mama tidak akan mentolerir hal itu.

Setelah lulus kuliah, di belakangnya, saya menyebut ayah saya “si tua bodoh.”  Ketika berhadapan, saya tetap menyebutnya papa, bukan karena saya meghormatinya, tetapi untuk menunjukkan kepadanya bahwa saya masih tahu tatakrama.

Suatu siang, saya ingat waktu itu saya berumur 28 tahun, saya menumpang bis Jakarta Sukabumi, saya duduk di samping jendela kanan. Bis yang kutumpangi melaju di jalan tol Jagorawi di siang terik. Sebuah mobil box merek Mitsubishi Cold berusaha menyusul bis yang kutumpangi, namun supir bis memberikan perlawanan. Aku memandangi mobil tersebut, di bangku depan, ayahku duduk di samping supirnya, dia sedang dalam perjalanan pulang dari berdagang. Dia duduk tenang, pandangannya menerawang. Aku terus memandangi ayahku, aku tidak tahu berapa lama aku memanndanginya, namun, hingga hari ini, peristiwa itu terus kukenang. Aku, dari ketinggian bis, memandanginya di kerendahan Cold Mitshubisi dan terus memandanginya, hingga tiba-tiba muncul sebuah kesadaran di dalam hatiku, AYAHKU HANYA SEORANG LAKI-LAKI BIASA.

Ketika mobilnya melaju di depan bis yang kutumpangi, pikiran itu terus berkecamuk di dalam hatiku, ayahku hanya seorang lelaki, dia bukan dewa, dia hanya seorang lelaki biasa sepertiku. Aku memujanya sebagai dewa, namun prilakunya adalah prilaku seorang lelaki biasa, itu sebabnya aku membencinya, dan menyalahkannya. Aku menghormatinya sebagai raja dan berharap dia mendidikku untuk jadi pangeran, namun dia hanya seorang lelaki biasa yang berprilaku sebagai lelaki biasa, itu sebabnya aku memusuhinya dan menyebutnya si tua bodoh. Sejak hari itu, aku menerima kenyataan, bahwa ayahku hanya seorang lelaki biasa, sama seperti aku, seorang lelaki biasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: